Salah Jurusan Pendidikan? Adalah Siswa/Mahasiswa Hebat - Niswa Djupri

Breaking

Sabtu, 27 Februari 2016

Salah Jurusan Pendidikan? Adalah Siswa/Mahasiswa Hebat




Siswa/Mahasiswa salah jurusan adalah anak yang 'hebat', dalam artian bahwa walaupun mereka sadar kalau salah jurusan, mereka tetap berusaha untuk bisa dan melanjutkan studinya di jurusan yang 'terlanjur'/'terpaksa' diambil.













Ibaratkan begini, Ikan berada di sekolah monyet, dan di sekolah monyet hanya diajarkan bagaimana cara memanjat yang baik dan benar sampai profesional. Bagaimana bisa ikan dipaksakan memanjat? Dia sudah punya keahlian sendiri, yaitu berenang.




Maaf ya, bukan bermaksud membandingkan manusia sama hewan. Hanya saja kadang-kadang manusia itu lupa, bahwa sejatinya manusia itu punya minat, bakat, dan keahliannya masing-masing.



Bagi yang masih menjadi siswa, sebaiknya ketahui dulu minat, bakat dan gaya belajar kamu sendiri. Pilihlah sekolah yang sesuai bakatmu, misalnya saja kamu suka duduk di depan laptop atau komputer sambil ngegame, sambil dengerin backsound gamenya yang penuh semangat, maka kamu sebaiknya pilih sekolah yang bisa mengembangkan bakat kamu itu, misalnya masuk di SMK yang punya jurusan Animasi atau Rekayasa Perangkat Lunak atau bisa juga jurusan multimedia.


Animasi, kalau kamu fokus di animasinya. Rekayasa perangkat lunak kalau kamu mau fokus di cara buat gamenya. Dan multimedia jika kamu mau fokus di jalan cerita game sekaligus editing audionya.


Mengenai cara belajar, belajarlah dgn cara yang asyik. Dengan suasana yang bisa menjadikanmu berprestasi bukan hanya di bidang akademik tapi juga non akademik. Banyak juga lo yang hobinya ngegame tapi bisa dapat ranking 5 besar di sekolah. Semua itu karena dia sudah menemukan cara belajarnya masing-masing.


Untuk yang sekarang merasa salah jurusan, jangan berkecil hati. Jalani saja dengan ikhlas, diniatkan ibadah mencari ilmu. Ketika kita ikhlas dan berusaha, Sang Maha Pemberi Ilmu itu tidak bakal salah kasih jalan dan rejeki di hidup kita. Selain itu kamu juga harus tetep mengembangkan bakatmu yang lain. Misalnya bagi yang suka dance, tetaplah dancing. Yang suka football, tetaplah playing football.


Nah, ini yang terakhir, bagi guru dan orang tua. Ingat pengibaratan antara ikan dan monyet tadi. Manusia punya bakat masing-masing. Anak bisa memiliki budi pekerti yang baik saja seharusnya kita sudah bersyukur. Karena sejatinya orang tua dan guru ada adalah untuk mendidik budi pekerti yang baik untuk masa depan anak-anak. Anak memilih masa depannya sendiri, orang tua dan guru hanya mengarahkan, memberi tau salah dan benar, kemudian mendoakan anak-anak yang terbaik di dalam hidupnya.





Twitter & Instagram : @md_niswa