New

Niswa Djupri
(Niswatul Ma'rifah, S.Kom., CHt)
Menjadi orang tua sering kali terasa seperti memasuki sebuah perjalanan tanpa buku petunjuk yang benar-benar lengkap. Ketika anak lahir, tidak ada ujian yang harus kita lulus terlebih dahulu. Tidak ada sertifikat yang menyatakan bahwa kita sudah siap menjadi ayah atau ibu. Yang ada hanyalah cinta, niat baik, dan proses belajar yang akan berlangsung seumur hidup.
Sayangnya, banyak orang tua yang diam-diam merasa harus selalu benar. Harus tahu semua jawaban. Harus bisa mengatasi semua masalah anak. Ketika melakukan kesalahan, muncul rasa bersalah yang begitu besar. Sebagian memilih menyalahkan diri sendiri, sementara sebagian lainnya justru mempertahankan gengsi karena merasa sebagai orang tua tidak boleh terlihat salah di hadapan anak.
Padahal, anak tidak pernah meminta kita menjadi orang tua yang sempurna. Mereka tidak membutuhkan ibu yang selalu sabar setiap detik atau ayah yang tidak pernah marah sama sekali. Yang mereka butuhkan adalah orang tua yang mau bertumbuh bersama mereka. Orang tua yang bersedia mengakui, "Mama juga sedang belajar," atau "Ayah minta maaf, tadi cara bicara Ayah kurang baik."
Ada satu kesalahpahaman yang masih sering kita temui dalam budaya mengasuh. Banyak orang menganggap meminta maaf kepada anak akan membuat wibawa orang tua hilang. Padahal, justru sebaliknya. Ketika orang tua berani mengakui kesalahan, anak sedang belajar bahwa setiap manusia bisa salah dan setiap kesalahan bisa diperbaiki dengan tanggung jawab.
Saya percaya, anak tidak sedang mengamati seberapa sempurna kita menjalani peran sebagai orang tua. Mereka lebih banyak memperhatikan bagaimana kita menyikapi kesalahan. Ketika mereka melihat orang tuanya mau belajar, mau meminta maaf, dan mau berubah, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih rendah hati dan lebih mudah menerima masukan.
Di era sekarang, ilmu tentang pengasuhan berkembang begitu cepat. Banyak penelitian baru yang membantu kita memahami perkembangan otak anak, kesehatan mental, kebutuhan emosional, hingga pentingnya komunikasi yang sehat di dalam keluarga. Tidak semua pola asuh yang kita terima dari orang tua dahulu harus diteruskan begitu saja. Ada yang baik untuk dipertahankan, tetapi ada pula yang perlu diperbaiki.
Belajar menjadi orang tua bukan berarti kita menganggap orang tua kita dulu gagal. Mereka sudah memberikan yang terbaik sesuai ilmu dan keadaan pada zamannya. Kini giliran kita melanjutkan perjuangan itu dengan bekal pengetahuan yang lebih luas. Bukan untuk merasa lebih hebat, tetapi agar anak-anak kita kelak tumbuh dengan bekal yang lebih baik.
Belajar juga berarti berani mengevaluasi diri. Mungkin selama ini kita terlalu sering memotong pembicaraan anak. Mungkin kita terlalu cepat memarahi sebelum mendengar penjelasannya. Mungkin kita lebih sibuk memperbaiki nilai rapornya daripada memahami isi hatinya. Semua itu bukan untuk disesali tanpa henti, melainkan untuk menjadi bahan perbaikan hari demi hari.
Sebagai seorang ibu, saya pun sering menyadari bahwa teori jauh lebih mudah daripada praktik. Ada hari-hari ketika emosi terasa penuh. Ada saat-saat ketika tubuh lelah dan kesabaran menipis. Pernah juga saya mengucapkan kalimat yang kemudian saya sesali. Namun saya belajar bahwa yang terpenting bukan tidak pernah salah, melainkan tidak berhenti memperbaiki diri setelah menyadari kesalahan itu.
Anak sebenarnya sangat mudah memaafkan. Bahkan sering kali mereka memeluk kita kembali hanya beberapa menit setelah dimarahi. Hati mereka begitu lembut. Justru karena itulah, kita perlu berhati-hati. Jangan sampai kelembutan itu kita anggap sebagai alasan untuk terus mengulang kesalahan yang sama. Permintaan maaf akan jauh lebih bermakna jika diikuti dengan perubahan sikap.
Orang tua yang terus belajar biasanya tidak malu membaca buku parenting, mengikuti seminar, mendengarkan kajian, berdiskusi dengan pasangan, atau bahkan bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman. Mereka sadar bahwa ilmu pengasuhan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab. Sebab anak adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
Yang lebih penting lagi, jangan pernah berhenti belajar langsung dari anak kita sendiri. Setiap anak memiliki kepribadian, kebutuhan, dan cara menerima kasih sayang yang berbeda. Apa yang berhasil diterapkan kepada anak pertama belum tentu cocok untuk anak kedua atau ketiga. Karena itu, orang tua yang baik bukan hanya rajin membaca buku, tetapi juga rajin mengamati dan memahami anaknya sendiri.
Tidak ada keluarga yang sempurna. Tidak ada rumah yang selalu dipenuhi tawa tanpa air mata. Akan ada salah paham, akan ada pertengkaran, dan akan ada penyesalan. Namun selama setiap anggota keluarga memiliki kerendahan hati untuk saling belajar, rumah akan selalu menjadi tempat pulang yang menenangkan.
Jika hari ini kita merasa masih banyak kekurangan sebagai orang tua, jangan berkecil hati. Kesadaran bahwa kita masih perlu belajar justru merupakan langkah awal menjadi orang tua yang lebih baik. Sebab yang paling berbahaya bukanlah tidak tahu, melainkan merasa sudah tahu segalanya sehingga menolak untuk berubah.
Semoga Allah senantiasa melembutkan hati kita untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mendidik anak-anak dengan ilmu, kasih sayang, serta keteladanan. Semoga anak-anak kita tidak mengenang kita sebagai orang tua yang sempurna, tetapi sebagai orang tua yang tidak pernah berhenti mencintai mereka dan tidak pernah berhenti belajar demi mereka. Aamiin ya Rabbal 'alamin.