Ketika Anak Berkata "Mama Gak Ngerti Aku": Kesalahan Orang Tua yang Sering Tidak Disadari - Niswa Djupri

Breaking

Senin, 29 Juni 2026

Ketika Anak Berkata "Mama Gak Ngerti Aku": Kesalahan Orang Tua yang Sering Tidak Disadari

Niswa Djupri, Ketika Anak Berkata "Mama Gak Ngerti Aku": Kesalahan Orang Tua yang Sering Tidak Disadari







Niswa Djupri
(Niswatul Ma'rifah, S.Kom., CHt)




Ada satu kalimat dari anak yang sering terdengar sederhana, tetapi diam-diam mampu menggetarkan hati seorang ibu. "Mama gak ngerti aku." Kalimat itu mungkin diucapkan sambil menangis, sambil membanting pintu, atau bahkan hanya bergumam pelan ketika ia merasa sudah tidak sanggup menjelaskan perasaannya. Bagi orang tua, kalimat itu bisa terasa seperti tuduhan. Padahal, sering kali itu adalah sebuah permintaan tolong yang belum sempat diterjemahkan.

Sebagai orang tua, kita tentu merasa sudah melakukan banyak hal. Bangun paling pagi, menyiapkan kebutuhan anak, mengantar sekolah, mencari nafkah, mengurus rumah, memastikan anak makan dengan baik, hingga memikirkan masa depannya. Semua itu dilakukan karena cinta. Namun, di mata anak, rasa dicintai tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang kita lakukan. Anak lebih sering mengukurnya dari seberapa dalam ia merasa dipahami.

Tidak sedikit konflik antara orang tua dan anak sebenarnya bukan karena anak membangkang, melainkan karena komunikasi yang tidak saling bertemu. Orang tua berbicara dengan logika, sementara anak sedang berbicara dengan perasaan. Orang tua sibuk mencari solusi, sedangkan anak hanya ingin ada seseorang yang mendengarkan tanpa langsung menghakimi atau mengoreksi.

Misalnya ketika anak pulang sekolah dengan wajah murung lalu berkata, "Aku gak punya teman." Sebagian orang tua spontan menjawab, "Masa sih? Kan kemarin masih main sama mereka." Ada juga yang berkata, "Makanya jangan pemilih." Niatnya mungkin ingin menyemangati. Namun, bagi anak, jawaban-jawaban itu justru membuat perasaannya terasa diabaikan. Ia tidak sedang meminta solusi secepat mungkin. Ia hanya ingin didengar.

Kesalahan yang sering tidak disadari orang tua adalah terlalu cepat menyimpulkan keadaan anak. Kita merasa sudah tahu penyebabnya, sudah tahu solusinya, bahkan merasa lebih berpengalaman. Padahal, setiap anak memiliki dunia yang unik. Dua anak yang mengalami kejadian sama bisa memiliki perasaan yang sangat berbeda. Karena itulah, memahami anak tidak bisa dilakukan hanya dengan asumsi.

Ada pula kebiasaan membandingkan pengalaman kita dengan pengalaman anak. "Dulu waktu Mama kecil lebih susah dari kamu." Kalimat ini memang benar menurut pengalaman kita. Akan tetapi, kalimat tersebut sering membuat anak merasa bahwa kesulitannya dianggap tidak penting. Padahal, rasa sedih bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling menderita. Setiap orang berhak merasa terluka atas pengalaman yang ia alami.

Sering kali kita juga terlalu fokus memperbaiki perilaku anak, tetapi lupa mencari tahu apa yang sedang terjadi di balik perilaku tersebut. Anak yang mudah marah belum tentu nakal. Anak yang diam belum tentu baik-baik saja. Anak yang mulai membantah belum tentu kehilangan rasa hormat. Bisa jadi mereka sedang kesulitan mengelola emosi, bingung mengungkapkan isi hati, atau merasa tidak cukup aman untuk bercerita.

Sebagai seorang ibu, saya belajar bahwa mendengarkan adalah salah satu bentuk cinta yang paling sederhana, tetapi paling sulit dilakukan. Sulit karena kita sering kali mendengarkan untuk menjawab, bukan untuk memahami. Padahal, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu memiliki jawaban. Mereka membutuhkan orang tua yang bersedia hadir sepenuhnya ketika mereka sedang berbicara.

Cobalah mengganti pertanyaan, "Kenapa kamu begitu?" menjadi, "Boleh Mama tahu apa yang kamu rasakan?" Perubahan kecil dalam cara bertanya dapat membuka pintu komunikasi yang jauh lebih hangat. Anak akan merasa bahwa perasaannya dihargai, bukan diinterogasi.

Validasi bukan berarti membenarkan semua perilaku anak. Jika anak memukul temannya, tentu kita tetap perlu mengajarkan bahwa memukul adalah tindakan yang salah. Namun, sebelum membahas perilakunya, bantu anak memahami emosinya terlebih dahulu. Misalnya dengan berkata, "Mama tahu kamu marah dan kecewa. Tapi kita cari cara lain ya selain memukul." Dengan begitu, anak belajar bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua perilaku boleh dilakukan.

Rumah yang nyaman bukanlah rumah yang tidak pernah dipenuhi tangisan atau pertengkaran. Rumah yang nyaman adalah rumah tempat setiap anggota keluarga merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri. Tempat anak tidak takut bercerita karena khawatir dimarahi, ditertawakan, atau dibandingkan. Tempat di mana kesalahan menjadi kesempatan untuk belajar bersama, bukan alasan untuk saling menjauh.

Jika suatu hari anak berkata, "Mama gak ngerti aku," jangan buru-buru tersinggung. Bisa jadi itu adalah undangan untuk lebih mengenal dunia kecil yang selama ini belum sempat kita masuki. Tidak ada orang tua yang langsung sempurna. Kita semua sedang belajar. Dan kabar baiknya, selama masih ada kemauan untuk mendengar, memperbaiki diri, dan memeluk anak dengan hati yang lebih lapang, hubungan itu selalu punya kesempatan untuk tumbuh menjadi lebih hangat.

Menjadi orang tua bukan hanya tentang membesarkan tubuh anak hingga dewasa. Lebih dari itu, kita sedang membesarkan hati mereka. Semoga Allah menjadikan kita orang tua yang bukan hanya hadir di sisi anak, tetapi juga hadir di dalam hatinya. Karena ketika anak merasa dipahami, ia akan lebih mudah menerima arahan, lebih percaya kepada orang tuanya, dan lebih kuat menghadapi dunia di luar rumah. Aamiin.