Ketika Ayah dan Ibu Tidak Sejalan: Dampak Perbedaan Prinsip dalam Mengasuh Anak - Niswa Djupri

Breaking

Selasa, 11 Februari 2025

Ketika Ayah dan Ibu Tidak Sejalan: Dampak Perbedaan Prinsip dalam Mengasuh Anak

Ketika Ayah dan Ibu Tidak Sejalan: Dampak Perbedaan Prinsip dalam Mengasuh Anak






Niswa Djupri
(Niswatul Ma'rifah, S.Kom., CHt)




Dalam sebuah keluarga, perbedaan pendapat antara ayah dan ibu adalah hal yang wajar. Termasuk dalam hal mengasuh anak. Ada yang lebih tegas, ada yang lebih lembut. Ada yang fokus pada aturan, ada yang lebih mengedepankan perasaan. Perbedaan ini sebenarnya bisa saling melengkapi jika dikelola dengan baik.

Namun masalah muncul ketika perbedaan itu tidak disatukan, melainkan dipertentangkan. Anak melihat dua arah yang berbeda, dua aturan yang tidak sama, bahkan dua keputusan yang saling bertolak belakang. Di sinilah kebingungan mulai tumbuh dalam diri anak.

Anak yang berada di tengah perbedaan prinsip sering kali tidak tahu harus mengikuti siapa. Ketika ayah melarang, ibu membolehkan. Ketika ibu menegur, ayah membela. Lama-kelamaan, anak bisa kehilangan arah dan mulai memilih mana yang paling menguntungkan baginya.

Lebih dari itu, anak juga bisa belajar sesuatu yang keliru. Ia belajar bahwa aturan bisa dinegosiasikan tergantung siapa yang dihadapi. Ia belajar bahwa konsistensi tidak penting. Dan tanpa disadari, ini membentuk pola perilaku yang bisa terbawa hingga dewasa.

Perbedaan prinsip juga bisa memicu konflik terbuka di depan anak. Perdebatan kecil tentang cara mendidik, jika sering terjadi, akan membuat anak merasa tidak aman. Ia bukan hanya bingung, tapi juga bisa merasa menjadi penyebab pertengkaran orang tuanya.

Padahal, anak membutuhkan satu hal yang sangat penting: kejelasan dan konsistensi. Ia perlu tahu batasan, aturan, dan nilai yang dipegang dalam keluarganya. Bukan dari satu orang tua saja, tapi dari keduanya sebagai satu tim.

Bukan berarti ayah dan ibu harus selalu sepakat dalam segala hal. Tapi perbedaan itu seharusnya dibicarakan di belakang, bukan dipertontonkan di depan anak. Diskusi boleh terjadi, bahkan penting. Tapi keputusan akhir harus terlihat sebagai kesepakatan bersama.

Ketika ayah dan ibu mampu menunjukkan kekompakan, anak akan merasa lebih tenang. Ia tahu bahwa aturan yang diberikan bukan sekadar keinginan satu pihak, tapi kesepakatan yang harus dihormati. Dari sini, rasa hormat dan kepercayaan anak juga akan tumbuh.

Pada akhirnya, mengasuh anak bukan tentang siapa yang paling benar, tapi bagaimana orang tua bisa berjalan bersama. Karena anak tidak butuh orang tua yang sempurna, tapi orang tua yang saling menguatkan dan berdiri di sisi yang sama dalam membimbingnya.