New

Niswa Djupri
(Niswatul Ma'rifah, S.Kom., CHt)
Banyak orang tua terkejut ketika anak yang biasanya penurut, tiba-tiba berubah menjadi pembangkang. Dulu mudah diatur, sekarang sering melawan. Dulu lembut, sekarang mudah marah. Perubahan ini terasa seperti sesuatu yang datang tiba-tiba, tanpa tanda.
Padahal, tidak ada pemberontakan yang benar-benar muncul tanpa sebab. Ada proses yang mungkin tidak terlihat. Ada perasaan yang selama ini dipendam, ada kebutuhan yang tidak tersampaikan, dan ada emosi yang akhirnya mencari jalan keluar.
Anak yang dikenal “baik” sering kali terbiasa menahan diri. Ia mengikuti aturan, memenuhi harapan, dan berusaha tidak mengecewakan orang tua. Tapi ketika semua itu terus dipendam tanpa ruang untuk menjadi diri sendiri, tekanan itu bisa menumpuk.
Dan ketika titik itu penuh, pemberontakan menjadi bahasa yang akhirnya muncul. Bukan karena anak ingin menjadi buruk, tapi karena ia tidak tahu lagi cara lain untuk didengar. Sikap melawan sering kali adalah bentuk komunikasi yang terlambat dipahami.
Di fase ini, orang tua sering bereaksi dengan marah atau kecewa. Merasa anak berubah, merasa tidak dihargai. Padahal, yang dibutuhkan anak justru bukan kemarahan, tapi pemahaman. Ia sedang tidak baik-baik saja, meski caranya salah.
Anak yang memberontak sebenarnya sedang menunjukkan bahwa ia butuh didengar. Ia ingin diakui perasaannya, bukan hanya dinilai perilakunya. Ketika orang tua hanya fokus pada kesalahan, maka akar masalahnya tidak pernah benar-benar tersentuh.
Bukan berarti semua perilaku melawan harus dimaklumi. Tetap perlu ada batasan dan aturan. Tapi cara menyampaikannya perlu berbeda, lebih tenang, lebih empati, dan tidak mempermalukan. Karena tujuan kita bukan sekadar membuat anak patuh, tapi membantu mereka memahami diri sendiri.
Masa ini bisa menjadi titik balik hubungan orang tua dan anak. Jika disikapi dengan bijak, justru bisa membuka komunikasi yang lebih dalam. Anak belajar bahwa ia aman untuk jujur, dan orang tua belajar untuk lebih memahami, bukan hanya mengatur.
Pada akhirnya, anak yang pernah memberontak bukan berarti gagal dididik. Bisa jadi, ia sedang bertumbuh. Dan tugas kita bukan mematikan suaranya, tapi membimbingnya agar menemukan cara yang lebih baik untuk mengekspresikan diri.