Terharu di Masjid Jami’ - Niswa Djupri

Breaking

Kamis, 08 Maret 2012

Terharu di Masjid Jami’

Saat ini aku memang masih kecil. Usiaku 6 tahun. Aku punya adek laki-laki bernama Lutfi Lubis. Sekarang adekku berusia 4 tahun. Haha.. Dekat sekali ya jarak usianya. Saat usiaku 11 bulan, emakku hamil lagi. Jadi sebenarnya usiaku dengan adekku tidak sampai 2 tahun.

Sekarang aku sedang bermain pasir di depan rumah. Masih rumah kontrakan memang, dan aku benar-benar tidak betah tinggal di sini. Pemilik rumah kontrakan ini sangat jahat. Kebetulan orangnya tinggal tepat di sebelah rumah kontrakan ini.

Pasir yang aku mainkan sekarang adalah pasir dari Sungai Brantas. Ada tetangga beli pasir yang akan dipakai renovasi rumah. Terkadang aku dimarahi karena pasirnya jadi berantakan. Hehehe, maklumlah anak kecil. Aku suka bermain buat rumah-rumahan dari pasir ini. Terkadang mengubur benda dan berandai-andai itu adalah harta karun yang bisa aku temukan kembali.

Sudah jam 5 sore aku masih belum mandi. Bapak dan emakku sebenarnya sudah meneriaki aku dari tadi agar aku mandi. Tapi entahlah, aku malas. Aku lebih suka main pasir dari pada mandi. Hehehe

Saking asyiknya aku bermain pasir, aku tidak sadar kalau di depanku sudah ada Adek, Bambang dan Candra yang masing-masing sudah rapi dengan baju koko, peci, dan celana yang dikenakannya. Mereka mirip sekali dengan da’i cilik.

“Mau kemana, Dek? Rapi sekali.” Tanyaku sambil memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Dia terlihat sangat tampan. Apalagi didukung dengan wajah adekku yang agak chinese, serta kulitya yang putih, semakin membuatnya terlihat jernih.

Ya, memang aku dan adikku adalah keturunan chinenes. Darah chinese aku dapat dari keluarga emakku. Tapi aku tidak ada bukti fisik kalau ada darah chinese yang mengalir dalam diriku, karena aku lebih mirip bapak yang orang Jawa asli.

“Mau ke masjid, bersama Bambang dan Candra,” jawabnya ketus.

“Aku ikut ya?”

“Eh, buat apa ikut? Aku tidak mau. Mbak Ninis belum mandi. Itu bajunya juga kotor.” Kata adik sambil berlalu pergi.
“Bambang, Candra, ayo berangkat.” Ajak adik sambil menarik tangan Bambang dan Candra.
Huffft..! Kecewa.

Meskipun aku tidak diajak, tapi aku tetap mengikuti mereka. Ya, dengan pakaian yang aku kenakan saat ini adalah terusan rok yang kusut, kotor, penuh dengan pasir. Sebenarnya adek tau kalau aku membuntutinya. Namun dia diam saja.

Sudah sampai di depan gerbang masjid, adek menyuruhku untuk pulang.

“Mbak, kamu pulang saja. Aku kasian, Mbak. Kamu tidak ada teman di sini. Matahari akan segera tenggelam. Adzan Sholat Maghrib akan segera berkumandang. Kamu tidak mungkin masuk dengan keadaan sepert ini.!”

Adek memikirkan aku. Mata adek mengeluarkan air mata.

Ya, aku sadar, aku tidak membawa mukena, serta pakaianku lusuh. Sudah pasti aku tidak mungkin masuk masjid dengan keadaan pakaian seperti ini. Aku harus menunggu di depan gerbang.

Aku tetap tidak mau pulang, adek terus memintaku untuk aku segera pulang.

Dengan tiba-tiba keadaan mataku mulai berkaca-kaca, mungkin karena aku benar-benar terharu kalau adik kasian padaku. Dan akhirnya, tanpa berbicara apapun lagi, aku pulang sendirian.

***

Niswa Ma'rifah Djupri