Malam Telah Larut. Tidurlah, Mak! - Niswa Djupri

Breaking

Senin, 01 November 2010

Malam Telah Larut. Tidurlah, Mak!

Emakku tersayang, aku di sini baik-baik saja. Jangan berpikir tentang aku yang sekarang jauh denganmu. Antara Denpasar-Jombang. Memang jarak itu terlalu jauh untuk kita yang belum bisa merasakan bagaimana naik pesawat terbang yang kecepatannya jauh lebih cepat dari bis malam yang aku tumpangi setiap pulang-pergi Jombang-Denpasar. Jarak itu tidak ada apa-apanya kalau hati kita tetap berpautan. Emak ada di hatiku dan aku di hati Emak. Ya, memang begitulah adanya sekarang.

Ada yang aneh pada diri Emak. Emak kenapa? Mengapa Emak belum tidur juga? Apakah langkahku ini salah hingga Emak terus saja memikirkan aku sampai Emak terlalu sesenggukan ketika berbicara padaku? Apakah mata Emak belum terselimuti rasa kantuk? Apakah Emak tau kalau ada banyak risau yang ikut terlelap bersama bantal dan gulingku? Atau mungkin karena Emak hanya ingin menemaniku untuk berteman dengan diriku sendiri?

Mak, aku memang seorang perempuan yang masih butuh bimbingan. Aku adalah perempuan yang masuk segolongan remaja akhir. Dan aku adalah seorang perempuan yang masih bisa menangis bila hati tersakiti. Namun seperti yang Emak tau, aku adalah sosok perempuan yang bisa menjadi teman untuk diri sendiri. Tak perlu Emak menemaniku segala.

Hahaha. Lucu memang kedengarannya, “Teman untuk diri sendiri”. Terkadang aku tertawa sendiri, terkadang aku senyum sendiri, dan terkadang pula aku marah pada diriku sendiri. Aku terkadang sampai mencari siapa orang yang mau memarahiku, menertawakanku, mencaciku, dan yang terpenting adalah menasehatiku, agar aku tidak menjadi orang yang merugi nantinya.

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali yang beriman dan beramal sholeh. Serta menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Masa, membuat aku semakin mengerti akan arti usia dan kerugian. Kalau ada orang yang berkata “I love my past. I love my present.” Maka aku akan berkata, “I love my future. Aku hidup di dunia ini hanya untuk masa depan.”

Ya, masa depan. Aku tidak peduli dengan masa lampau dan sekarang. Aku selalu mencari cara bagaimana masa depanku bisa lebih baik. Berharap nanti Emak bisa bahagia bersamaku seiring kerutan di kulit Emak yang semakin bertambah, rambut Emak yang mulai memutih, dan pikun yang biasa mendera orang-orang manula yang lainnya. Dan sampai akhirnya, aku berharap Emak bisa meninggal di dekatku. Atau mungkin aku bisa meninggal di dekat Emak.

Huuuft..!!! Emak tau sendiri kan apa yang paling aku sesalkan di dunia ini. Ya, aku tidak bisa bertemu dengan bapak di saat terakhir sebelum bapak dimakamkan. Aku belum membuat mata bapak berbinar-binar karena kesuksesanku. Mata bapak yang dulu sempat aku buat berlinang dan pipi basah airmata karena berbagai kenakalanku. Apalagi saat aku berkata, “Maaf Pak, aku kurang perhatian dari Bapak.” Bapak terlalu shock ketika mendengar itu, dan setelah itu bapak menangis dan menyesal karena apa yang dilakukannya padaku seakan sia-sia belaka. Bapak menyalahkan dirinya karena merasa tidak bisa menjadi orangtua yang baik bagiku. Bapak tidak pernah menyalahkanku atas perkataanku itu.
“Hahaha”. Lagi-lagi aku tertawa sendiri. Aku aneh ya.. Emak tau aku tertawa karena apa? Jangan geleng-geleng kepala saja, Mak! Mak mau tau tidak?

Oh, akhirnya Emak manggut-manggut juga.

Benar nih Emak mau tau?

Manggut lagi dong, Mak.!

Hahaha, nice, Emak manggut lagi.

Begini Mak, sebenarnya aku tertawa karena Emak belum tidur juga. Lucu, lucu sekali. Aku menyuruh Emak tidur tapi aku masih berbicara terus seperti radio rusak. Sudah Mak, ayo-ayo tidur. Ini sudah larut malam.

Emak harus tidur, sekarang kalau di sini sudah jam 2 dini hari. Di Jombang sekarang jam 1 kan?
Ayo Mak cepatlah tidur.! Aku harus bangun dari mimpi ini, Mak. Sekarang aku harus buka mata. Aku harus bangun untuk menunaikan sholat malamku yang sunnah di sepertiga malam ini.

Doakan aku ya Mak, agar ilmu yang aku dapatkan dari bapak, Emak, guru, dosen, dan semua yang menyampaikan ilmunya padaku, bisa bermanfaat bagi dunia dan akhirat. OK, Mak?

Asyiiiiik, akhirnya Emak senyum juga. OK, Mak. Semoga keselamatan, berkah dan Rahmat Yang Maha Kuasa tercurah padamu, Mak.

Cepat tidur ya, Mak.! Daaaaaaah.. Jangan lupa untuk memasukkan aku ke dalam mimpimu, Mak.

*senyum*

*membuka mata*

*doa bangun tidur*

“Alhamdulillahilladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuuru.”

Niswa Ma’rifah Djupri
Denpasar, 1 November 2010
02:10 Wita