Filosofi Cahaya Pelangi - Niswa Djupri

Breaking

Kamis, 13 April 2017

Filosofi Cahaya Pelangi


Semasa SD, tepatnya Madrasah Ibtidaiyah kelas 5 dan 6. Saat aku baru sadar kalau aku lebih mampu mempelajari ilmu Bahasa dan Sastra. Aku belajar banyak mengenai kehidupan melalui guru-guruku. Di balik teori pelajaran, selalu tersimpan filosofi yang bisa aku simpulkan sendiri.





Pernah aku belajar IPA, ibu guruku saat itu bernama ibu Umi Hamidah. Aku dan teman-teman memanggil beliau 'Ibu Midah'. Saat itu bu Midah mengajak kami ke halaman sekolah di kala matahari sangat terik. Ibu Midah berkata kalau kita akan praktek mengenai cahaya.













Ibu Midah membawa seember air, sepotong cermin, dan selembar kertas. Kami ditunjukkan pembiasan cahaya yang terpantul menjadi banyak warna setelah cermin itu dimasukkan kedalam air. Itulah pertama kalinya aku tahu bahwa pelangi sebenarnya dari pembiasan cahaya matahari. Cahaya matahari yang sebenarnya terdiri dari banyak warna. Warna putih cahaya matahari sebenarnya adalah gabungan dari berbagai cahaya yang berbeda-beda, yang kalau dilihat dengan mata manusia, manusia hanya sanggup melihat paling tidak tujuh warna yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.





Sama halnya manusia yang sejatinya "putih". Putih yang jika diuraikan akan menjadi banyak warna. Banyak warna bisa diibaratkan sebagai banyak suku, agama, ras, dan lainnya yang mampu membuat manusia berbeda satu sama lain. Yang artinya banyak perbedaan yang ada mampu membuat kita semua menjadi sebuah pelangi yang indah.





Lalu apa yang bisa menjadikan kita sebagai cahaya matahari yang kembali putih? Yaitu dengan menyatukan "warna-warna" itu. Dengan kita bersatu, rukun, dan damai, bisa menjadikan kita sebagai manusia yang "putih". Tanpa dendam dan kedengkian satu sama lain atas dasar perbedaan suku, ras, agama dan lainnya.





Tetap pada materi mengenai cahaya, bu Midah pernah memberi satu pertanyaan untuk kami semua murid-muridnya. Katanya  kalau salah satu dari kami bisa jawab, boleh pulang lebih awal. Aku masih teringat jelas apa pertanyaannya. Bu Midah bertanya, "Bilamana terjadi bayangan?". Dan aku dengan girangnya mengacungkan tangan karena aku tahu jawabannya. Aku jawab, "Ketika cahaya mengenai benda gelap." Benda gelap artinya benda-benda yang tidak dapat memancarkan cahaya sendiri.





Akhirnya aku bisa pulang menyusul beberapa temanku yang sudah pulang lebih awal karena sudah bisa menjawab pertanyaan. Jarang sekali aku segembira itu karena bisa menjawab pertanyaan karena aku termasuk anak yang tidak bisa masuk dalam peringkat 10 besar. Bisa menjawab pertanyaan seperti rasanya sangat "wah" sekali. Tapi justru karena kegembiraan itulah aku jadi sangat ingat kejadian itu. Kejadian dimana aku mulai semangat untuk belajar banyak hal.





Hanya karena satu pertanyaan "Bilamana terjadi bayangan?" dan aku jawab "Ketika cahaya mengenai benda gelap", aku ingat sampai sekarang. Menurutku itu bukan hanya sekedar jawaban, tapi juga nasehat untukku.





Kembali lagi pada kita sebagai manusia yang "putih". Ketika ada "benda gelap" mengenai diri kita yang putih, maka bayangan hitam akan mengikuti kita kemana-mana. Benda gelap itulah yang menyebabkan kita tidak bisa memunculkan warna-warna lain selain hitamnya warna bayangan.


Jadi, tahukan apa yang harus kita lakukan untuk menjadi pelangi yang sangat indah? Yang perlu dipamahami adalah bahwa kita punya warna-warna masing yang indah seperti pelangi jika kita bersandingan. Dan menjadi putih apabila kita bersatu dengan cara rukun, damai, menghargai, dan saling menghormati.





Begitulah kisah aku, teman-temanku, dan guruku. Bersyukurlah jika Anda, atau siapapun engkau yang menjadi seorang guru/pendidik, karena entah seberapa banyak murid yang mengingatmu nanti, pasti ada 1 moment yang masuk ke hatinya, itu akan berpengaruh bagi masa depannya.


Henry Adams (seorang sastrawan Amerika Serikat yang menulis buku 'The Education of Henry Adams') pernah berkata, "Seorang guru berpengaruh selamanya. Dia tidak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir."





----------------------------------


Niswa Djupri


Denpasar, 13 April 2017