
Niswa Djupri
(Niswatul Ma'rifah, S.Kom., CHt)
Hari pertama masuk sekolah adalah momen yang dinanti banyak keluarga. Seragam baru sudah disiapkan, tas sekolah sudah terisi rapi, sepatu baru sudah dicoba berkali-kali, bahkan orang tua pun tak kalah bersemangat mengabadikan momen dengan kamera. Namun, tidak semua anak menyambut hari pertama sekolah dengan senyum. Ada yang tiba-tiba memeluk ibunya erat, menangis tanpa henti, bahkan menolak masuk ke dalam kelas. Jika hal ini terjadi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa anak manja atau tidak mandiri. Bisa jadi, ada perasaan yang belum mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
Anak menangis di hari pertama sekolah adalah hal yang wajar. Bagi sebagian anak, sekolah merupakan lingkungan yang benar-benar baru. Ia harus berpisah dengan orang yang selama ini menjadi sumber rasa aman, bertemu banyak wajah asing, mengikuti aturan yang belum dikenalnya, dan beradaptasi dengan rutinitas yang berbeda. Semua perubahan itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Tidak heran jika tubuh dan emosinya memberikan respons berupa tangisan.
Sering kali, orang tua tanpa sadar memperburuk keadaan dengan kalimat seperti, "Masa sih cuma sekolah aja nangis?" atau "Lihat tuh, temanmu berani, kok kamu cengeng." Kalimat-kalimat seperti ini mungkin dimaksudkan untuk menyemangati, tetapi justru membuat anak merasa bahwa emosinya tidak diterima. Ia bukan hanya takut pada situasi baru, tetapi juga merasa bersalah karena menangis.
Padahal, menangis adalah salah satu cara anak mengomunikasikan emosinya. Ketika kemampuan berbahasa belum mampu menjelaskan rasa cemas, takut, bingung, atau kehilangan, air mata menjadi bahasa yang paling mudah keluar. Anak belum memiliki keterampilan mengelola emosi seperti orang dewasa. Oleh karena itu, ia membutuhkan pendampingan, bukan penilaian.
Bayangkan jika kita sebagai orang dewasa ditempatkan di lingkungan kerja baru tanpa mengenal siapa pun. Kita mungkin merasa gugup, canggung, atau khawatir melakukan kesalahan. Sekarang bayangkan anak usia tiga, empat, atau lima tahun yang harus menghadapi pengalaman serupa tanpa didampingi orang yang paling ia percaya. Tentu rasa cemasnya jauh lebih besar. Inilah alasan mengapa hari pertama masuk sekolah sering menjadi tantangan emosional bagi anak.
Sebagai orang tua, yang perlu kita lakukan bukan menghilangkan tangisan anak secepat mungkin, melainkan membantu anak merasa aman. Peluklah ia sebelum berpisah. Tatap matanya. Katakan dengan lembut, "Mama tahu kamu masih takut. Tidak apa-apa. Mama percaya kamu bisa, dan nanti Mama jemput." Kalimat sederhana seperti ini mampu memberikan rasa aman karena anak merasa dimengerti.
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah diam-diam pergi ketika anak sedang lengah. Mungkin orang tua berpikir cara ini akan membuat perpisahan lebih mudah. Faktanya, banyak anak justru kehilangan kepercayaan ketika menyadari ibunya sudah tidak ada. Di hari-hari berikutnya, ia bisa menjadi lebih sulit ditinggalkan karena takut orang tuanya menghilang lagi tanpa pamit. Lebih baik berpamitan dengan jujur meskipun anak menangis, daripada pergi secara diam-diam.
Yang juga perlu dipahami, setiap anak memiliki proses adaptasi yang berbeda. Ada anak yang langsung nyaman di sekolah sejak hari pertama. Ada yang membutuhkan tiga hari. Ada pula yang baru merasa tenang setelah dua atau tiga minggu. Perbedaan ini bukan ukuran kecerdasan, keberanian, ataupun kualitas pola asuh. Setiap anak memiliki temperamen dan kebutuhan emosional yang unik.
Daripada membandingkan anak dengan teman-temannya, lebih baik bandingkan anak dengan dirinya sendiri. Jika kemarin ia menangis selama satu jam, lalu hari ini hanya menangis lima belas menit, itu adalah sebuah kemajuan. Jika minggu lalu ia hanya berani duduk di dekat pintu, lalu hari ini mulai bermain bersama teman, itu juga pencapaian yang layak diapresiasi. Perubahan kecil adalah bagian dari proses besar yang sedang ia jalani.
Sebagai ibu, saya percaya bahwa hari pertama sekolah bukan hanya ujian bagi anak, tetapi juga bagi orang tua. Ada rasa khawatir ketika melihat anak menangis. Ada keinginan untuk memeluknya kembali dan membawanya pulang. Bahkan tidak sedikit ibu yang diam-diam menangis setelah meninggalkan sekolah. Itu bukan tanda lemah. Itu adalah bukti bahwa hati seorang ibu selalu terhubung dengan hati anaknya.
Namun, mencintai anak bukan berarti selalu menyelamatkannya dari setiap rasa tidak nyaman. Ada kalanya kita perlu mendampingi anak menghadapi tantangan baru agar ia belajar bahwa rasa takut bisa dilewati. Tugas kita bukan menghilangkan semua kesulitan dalam hidupnya, melainkan memastikan ia tidak merasa sendirian ketika menghadapinya.
Di rumah, luangkan waktu untuk mengobrol tentang pengalaman sekolahnya. Jangan hanya bertanya, "Tadi belajar apa?" Cobalah bertanya, "Bagian mana yang paling kamu sukai hari ini?" atau "Apa yang membuatmu merasa senang? Apa yang membuatmu masih takut?" Pertanyaan seperti ini membantu anak mengenali dan mengekspresikan emosinya. Lama-kelamaan, ia akan lebih mudah bercerita daripada memendam perasaannya.
Jika tangisan masih terjadi selama beberapa hari, tetaplah tenang dan konsisten. Bangun rutinitas pagi yang menyenangkan, pastikan anak tidur cukup, sarapan sebelum berangkat, dan berikan pelukan setiap kali berpisah. Hindari menunjukkan kecemasan berlebihan di depan anak karena emosi orang tua sering kali ikut memengaruhi rasa aman anak.
Perlu diingat bahwa anak yang menangis di hari pertama sekolah bukan berarti tidak siap belajar. Justru, banyak anak yang awalnya menangis kemudian tumbuh menjadi anak yang percaya diri, aktif, dan menyukai sekolah. Tangisan hanyalah bagian dari proses adaptasi, bukan penentu masa depannya. Yang akan paling diingat anak bukan seberapa lama ia menangis, tetapi bagaimana orang tuanya memperlakukan dirinya di saat ia sedang merasa takut.
Sebagai orang tua, mari kita belajar melihat air mata anak dengan hati yang lebih lembut. Di balik tangisnya, ada keberanian yang sedang bertumbuh. Di balik pelukannya yang erat, ada rasa aman yang sedang ia cari. Dan di balik hari pertama sekolah yang penuh haru, ada langkah kecil menuju dunia yang lebih luas.
Semoga Allah menitipkan kesabaran di hati setiap ayah dan ibu dalam mendampingi anak-anaknya memasuki setiap fase kehidupan. Semoga setiap langkah kecil mereka menuju sekolah menjadi langkah menuju ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, dan masa depan yang diberkahi. Aamiin ya Rabbal 'alamin.