New

Niswa Djupri
(Niswatul Ma'rifah, S.Kom., CHt)
Ada ibu yang terlihat baik-baik saja di luar, tapi sebenarnya sedang hancur di dalam. Ia tetap memasak, mengurus anak, tersenyum di depan keluarga. Tapi tidak ada yang tahu, betapa lelah hatinya menahan semuanya sendirian.
Stres yang ia rasakan bukan datang dari satu hal saja. Tapi dari tumpukan kecil yang terus bertambah setiap hari. Tanggung jawab rumah, tekanan ekonomi, kelelahan fisik, dan perasaan tidak dihargai semuanya menumpuk tanpa jeda. Hingga akhirnya, ia tidak tahu lagi bagaimana cara merasa baik-baik saja.
Ia ingin bercerita. Tapi tidak punya tempat. Teman? Tidak ada yang benar-benar mengerti. Keluarga? Takut dianggap mengeluh. Suami? Kadang ingin bicara, tapi justru berujung salah paham. Akhirnya, ia memilih diam. Menyimpan semuanya sendiri.
Dalam diam itulah, luka batin semakin dalam. Ia mulai merasa sendiri, bahkan di tengah rumahnya sendiri. Tangisnya sering jatuh tanpa suara. Malam menjadi waktu paling jujur, saat semua topeng lelahnya runtuh. Tapi esok pagi, ia harus kembali kuat seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia tahu sebenarnya butuh bantuan. Ingin ke psikolog, ingin didengar tanpa dihakimi. Tapi realita berkata lain. Biaya menjadi penghalang. Dan pada akhirnya, ia kembali mengubur keinginannya, meyakinkan diri bahwa mungkin ia masih bisa bertahan sendiri.
Padahal, tidak semua luka bisa disembuhkan sendirian. Ada beban yang memang butuh dibagi. Ada rasa yang memang perlu dikeluarkan. Tapi ketika akses terbatas, ibu seperti ini hanya punya satu pilihan: bertahan semampunya.
Di titik tertentu, ia tidak lagi menangis keras. Ia hanya merasa kosong. Menjalani hari tanpa rasa. Melakukan semuanya karena harus, bukan karena ingin. Dan itu adalah bentuk lelah yang paling dalam ketika hati sudah tidak punya tenaga untuk merasa.
Namun di balik semua itu, ia tetap bertahan. Bukan karena kuat tanpa batas, tapi karena tidak punya pilihan. Anak-anaknya masih membutuhkan dirinya. Dan dari situlah, ia terus berjalan, meski pelan, meski tertatih.
Mungkin kita tidak selalu tahu siapa ibu itu. Bisa jadi tetangga kita, saudara kita, atau bahkan diri kita sendiri. Maka jika hari ini kamu bertemu ibu yang terlihat biasa saja, jangan buru-buru menilai. Bisa jadi, ia sedang berjuang keras untuk tidak benar-benar hancur.