Ketika Guru Mengakui Dirinya Tidak Sempurna - Niswa Djupri

Breaking

Selasa, 23 Juni 2026

Ketika Guru Mengakui Dirinya Tidak Sempurna

Niswa Djupri, Ketika Guru Mengakui Dirinya Tidak Sempurna






Niswa Djupri
(Niswatul Ma'rifah, S.Kom., CHt)




Di sebuah acara akhirusanah sederhana di sekolah TK IT anak saya, ada satu bagian yang tidak bisa saya lupakan. Bukan tentang dekorasi, bukan tentang penampilan anak-anak, tapi tentang satu pesan yang begitu jujur dari seorang kepala sekolah.

Beliau berdiri di depan, tidak dengan kesan paling sempurna, tapi justru dengan kerendahan hati yang jarang kita dengar. Ia mengakui bahwa dalam pelayanan mendidik anak-anak, masih banyak kekurangan yang mereka miliki.

Selama ini, mungkin kita sering membayangkan guru sebagai sosok yang sabar tanpa batas. Sosok yang selalu lembut, tidak pernah marah, seperti ibu peri yang selalu tersenyum dalam segala keadaan.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Di balik senyum mereka, ada lelah yang tidak selalu terlihat. Di balik kelembutan mereka, ada emosi yang juga manusiawi.

Guru bukan makhluk tanpa rasa. Mereka bisa marah, bisa kecewa, bisa lelah, sama seperti kita sebagai orang tua di rumah.

Dan justru karena itulah, pengakuan itu terasa begitu menyentuh. Ada keberanian untuk jujur, bahwa mereka bukan sosok sempurna, melainkan manusia yang terus berusaha.

Sering kali kita sebagai orang tua hanya melihat dari satu sisi. Saat anak kita dimarahi, kita merasa terluka. Saat anak kita ditegur, kita merasa ada yang salah dengan cara mendidik di sekolah.

Namun kita lupa, mendidik satu anak saja sudah melelahkan. Apalagi mendidik banyak anak dengan karakter yang berbeda setiap harinya.

Ada anak yang mudah diatur, ada yang butuh kesabaran ekstra. Ada yang penurut, ada yang aktif, bahkan sulit diam. Semua itu harus dihadapi dalam waktu yang bersamaan.

Di tengah kondisi seperti itu, guru tetap datang setiap hari. Tetap berusaha tersenyum, tetap berusaha adil, tetap berusaha memberikan yang terbaik, meskipun mereka tahu diri mereka masih penuh kekurangan.

Hari itu saya belajar sesuatu yang sederhana tapi dalam. Bahwa mendidik bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang terus berusaha meski tahu diri belum sempurna.

Dan mungkin, sebagai orang tua, yang juga perlu kita lakukan adalah hal yang sama. Lebih memahami, lebih memaafkan, dan lebih menghargai setiap proses yang tidak selalu terlihat.

Karena di balik setiap anak yang tumbuh, ada banyak hati yang ikut bekerja. Hati orang tua di rumah, dan hati para guru di sekolah, yang sama-sama sedang belajar menjadi lebih baik setiap harinya.