Berpisah Dengan Motor Perjuangan - Niswa Djupri

Breaking

Jumat, 09 Juni 2017

Berpisah Dengan Motor Perjuangan


Jadi ceritanya saya ingin curhat.





Saya punya motor Mio keluaran tahun 2006. Saya beli bekas tahun 2013. Dana untuk belinya dibantu juga oleh ayah tiri saya.  Dan belinya pun ditemani seseorang yang selalu ada untuk saya di saat senang dan susah. Motor itu beli saat masa-masa perjuangan. Masa-masa susah. Di saat saya masih sering makan nasi sama garam atau kecap aja di kos (serius). Motor itu yang saya pakai bawa sendiri berkarung-berkarung sandal saat usaha sandal saya belum ada karyawan yang membantu saya. Kira-kira sampai 15 lusinan sandal jepit. Hampir tiap hari. Kadang-kadang antar pesenan sendiri sampai ke Nusa Dua saat Layanan Go-Jek belum ada.







Penampakan motor ini saat sehat-sehatnya








Ya kalau dipikir-pikir, badan sekecil ini mana bisa bawa barang sebegitu banyak pake motor Mio. Saya cuma bisa bilang "Kalau gak mau kayak gini ya gak bakal bisa aku jadi pendekar.!"





Saya bersyukur punya motor ini, karena sebelum saya punya motor ini malah saya naik sepeda kemana-kemana. Jadi sering olahraga kaki jadinya.





Semenjak ada motor Mio ini, saya semakin terbantu. Usaha saya juga semakin lancar. Akhirnya punya beberapa karyawan. Jumlah stok bertambah banyak. Padahal modal awal cuma 130 ribu itupun pinjam.





Dari semua perjuangan itulah saya sayang dengan motor ini. Sekarang, motor saya sudah sering-sering mogok. Diservis berkali-kali dan ganti-ganti onderdil yang sudah menghabiskan banyak dana. Dari kemarin-kemarin sudah banyak yang suruh jual, termasuk orang tua saya, karena sudah seperti itu kondisinya.





Semalam motor saya mogok lagi. Lagi-lagi banyak saran yang saya terima untuk menjualnya saja. Saya pikir terus berulang-ulang. Akhirnya saya memutuskan untuk menjualnya, dan sudah laku.





Bismillah... Semoga dengan keikhlasan ini Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Rasa kehilangan ini lebih parah dibanding saat saya hendak menjual biola kesayangan saya. Karena perjuangannya berbeda.


Berat, sungguh berat sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi.. Harus ikhlas.!!





Lebay ya.. Tapi saya yakin, banyak orang yang sudah sukses diluar sana yang pernah merasakan seperti saya ini. Merasakan bagaimana sedihnya berpisah dengan benda-benda/orang-orang yang pernah menemaninya di saat susah.