Ketika Luka dari Guru Lebih Membekas daripada Nilai Pelajaran - Niswa Djupri

Breaking

Sabtu, 22 Juli 2017

Ketika Luka dari Guru Lebih Membekas daripada Nilai Pelajaran

Ketika Luka dari Guru Lebih Membekas daripada Nilai Pelajaran




Ditulis oleh :

Niswa Djupri
(Niswatul Ma'rifah, S.Kom., CHt)


   


Bagi banyak anak, guru adalah sosok yang dihormati. Bahkan sering kali setelah orang tua, gurulah orang dewasa yang paling banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Karena itu, setiap ucapan guru memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap cara seorang anak memandang dirinya sendiri.

Sayangnya, tidak semua luka di sekolah berasal dari teman sebaya. Ada kalanya luka itu justru datang dari orang yang seharusnya menjadi pelindung dan pembimbing. Bukan melalui pukulan, melainkan melalui kata-kata yang meremehkan, mempermalukan, atau memberi label buruk kepada seorang anak.

Mungkin bagi orang dewasa, itu hanya candaan. Mungkin hanya ucapan spontan karena emosi sesaat. Namun bagi seorang anak, kata-kata itu bisa tersimpan bertahun-tahun dalam ingatannya. Anak sering kali tidak mengingat seluruh materi pelajaran yang diajarkan gurunya, tetapi mereka bisa mengingat dengan sangat jelas kalimat yang pernah membuat mereka merasa tidak berharga.

Ketika seorang guru mengatakan, "Kamu memang malas," "Kamu bodoh," atau "Kamu tidak akan bisa," sebenarnya guru sedang menanamkan keyakinan tertentu dalam diri anak. Apalagi jika kalimat itu diucapkan di depan teman-temannya. Rasa malu yang muncul bisa jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Yang lebih mengkhawatirkan, teman-teman sekelas sering menjadikan sikap guru sebagai contoh. Jika guru mempermalukan seorang siswa, teman-teman lain bisa menganggap perilaku itu wajar. Akibatnya, anak yang sama bisa menjadi sasaran ejekan berulang kali, bahkan setelah jam pelajaran selesai.

Tidak semua anak mampu melawan atau membela dirinya sendiri. Ada anak yang memilih diam. Ada yang tetap tersenyum meski terluka. Ada pula yang mulai kehilangan kepercayaan diri, enggan berangkat sekolah, atau merasa dirinya memang tidak berharga seperti yang dikatakan orang lain.

Padahal tugas guru bukan hanya mengajar pelajaran akademik. Guru juga membantu membangun karakter, harga diri, dan masa depan anak-anak yang dipercayakan kepadanya. Karena itu, setiap kata yang keluar dari lisan seorang guru seharusnya mampu menguatkan, bukan menjatuhkan.

Tentu tidak ada guru yang sempurna. Guru juga manusia yang bisa lelah, bisa marah, dan bisa melakukan kesalahan. Namun justru karena besarnya pengaruh yang mereka miliki, penting untuk terus mengingat bahwa anak-anak sedang belajar mengenal diri mereka melalui cara orang dewasa memperlakukan mereka.

Seorang guru mungkin tidak akan selalu diingat karena rumus yang diajarkannya. Tetapi ia akan selalu diingat karena bagaimana ia membuat muridnya merasa. Apakah merasa dihargai, didukung, dan dipercaya, atau justru merasa kecil dan tidak berarti.

Mudah-mudahan semakin banyak sekolah, guru, dan orang tua yang menyadari bahwa pendidikan terbaik bukan hanya tentang mencetak anak yang pintar. Pendidikan terbaik adalah ketika seorang anak pulang dari sekolah dengan ilmu yang bertambah, hati yang tetap utuh, dan keyakinan bahwa dirinya berharga di mata orang-orang yang mendidiknya.