Kita sering sekali diingatkan untuk bijak dalam menulis dan membagikan sesuatu di media sosial. Bahkan sampai ada aturan dan undang-undang yang mengaturnya. Tapi pernah nggak kita berhenti sebentar dan bertanya pada diri sendiri: apakah kita juga sudah bijak dalam menyikapi apa yang diposting orang lain?
Media sosial pada dasarnya adalah tempat untuk bersosial. Tempat orang-orang berinteraksi, berkomunikasi, dan berbagi. Tapi seperti komunikasi pada umumnya, di dalamnya pasti ada potensi kesalahpahaman. Itu hal yang sangat wajar.
Bahkan dalam kehidupan nyata saja, komunikasi antara orang tua dan anak, suami dan istri, atau sesama saudara sering terjadi salah paham. Apalagi di media sosial, di mana kita hanya melihat tulisan tanpa ekspresi, tanpa nada suara, tanpa konteks yang utuh.
Mungkin kita pernah mendengar kalimat ini: “Namanya juga media sosial, yang disindir siapa, yang sakit hati siapa. Yang dipuji siapa, yang GR siapa.” Kalimat sederhana, tapi sebenarnya menggambarkan realita yang sering terjadi.
Kadang, tanpa sadar, kita merasa sebuah status ditujukan untuk kita. Kita jadi merasa diperhatikan, bahkan berharap lebih. Padahal bisa jadi itu hanya kebetulan saja.
Rasa GR biasanya muncul karena kita terlalu berharap pada orang yang membuat status. Ini sering terjadi, terutama pada anak muda yang sedang galau atau masih menyimpan perasaan pada seseorang. Akhirnya, setiap postingan terasa seperti punya makna khusus.
Di sisi lain, ada juga yang justru merasa tersinggung atau sakit hati. Membaca sebuah status, lalu merasa disindir. Padahal belum tentu itu tentang dirinya. Tapi karena pikiran kita sudah terarah ke sana, akhirnya kita sendiri yang merasa terluka.
Sebenarnya, perasaan itu lebih banyak berasal dari dalam diri kita sendiri. Cara kita memaknai sesuatu sangat mempengaruhi apa yang kita rasakan. Bukan selalu karena apa yang ditulis orang lain.
Jika kita terlalu sibuk memikirkan omongan orang lain, apalagi yang belum tentu ditujukan untuk kita, kita justru sedang merugikan diri sendiri. Energi kita habis untuk hal yang tidak pasti.
Akan jauh lebih baik jika kita fokus menjalani hidup kita sendiri. Tetap menjadi diri sendiri, melakukan hal-hal baik, dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang belum jelas kebenarannya.
Media sosial seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan, bukan tempat yang membuat kita overthinking atau merasa tidak nyaman. Semua kembali pada bagaimana kita menyikapinya.
Jadi, mulai sekarang mari kita belajar bukan hanya bijak dalam menulis dan membagikan sesuatu, tapi juga bijak dalam memahami, menerima, dan menyikapi apa yang kita lihat di media sosial.
.png)
