New

Niswa Djupri
(Niswatul Ma'rifah, S.Kom., CHt)
Sering kali kita menganggap sesuatu itu hal kecil. Kalimat sederhana, candaan ringan, atau sikap yang menurut kita biasa saja. Tapi tanpa disadari, hal kecil itu bisa terasa besar di hati anak, apalagi jika dilakukan berulang kali.
Ada anak yang sebenarnya sudah menunjukkan ketidaksukaannya. Mungkin lewat ekspresi, mungkin lewat kata-kata, atau bahkan lewat sikap diam. Tapi karena dianggap sepele, orang tua tetap melakukannya lagi dan lagi, seolah itu bukan masalah.
Padahal, ketika anak berkata “aku nggak suka,” itu bukan sekadar protes. Itu adalah usaha anak untuk menjaga perasaannya. Itu adalah bentuk komunikasi jujur yang seharusnya didengar, bukan diabaikan.
Ketika hal yang sama terus diulang, anak mulai belajar bahwa perasaannya tidak dianggap penting. Ia mungkin berhenti bicara, bukan karena sudah tidak merasa, tapi karena merasa percuma untuk menyampaikan.
Luka yang datang dari hal kecil justru sering lebih dalam. Karena ia terjadi berulang. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Dan setiap kali itu terjadi, perasaan anak seperti ditumpuk sedikit demi sedikit.
Lama-kelamaan, yang terkumpul bukan lagi sekadar rasa tidak suka. Bisa berubah menjadi kesal, marah, bahkan dendam yang diam-diam tumbuh. Bukan karena anak ingin membenci, tapi karena ia terlalu sering menahan.
Orang tua mungkin merasa tidak melakukan kesalahan besar. Tidak membentak, tidak memukul. Tapi lupa bahwa hati anak tidak hanya terluka oleh hal besar, melainkan juga oleh hal kecil yang terus berulang tanpa perubahan.
Mendengarkan anak bukan berarti selalu menuruti. Tapi setidaknya menghargai apa yang ia rasakan. Berhenti sejenak, memperbaiki diri, dan berusaha tidak mengulang hal yang sama bisa menjadi bentuk cinta yang sangat berarti bagi anak.
Karena pada akhirnya, hubungan orang tua dan anak tidak hanya dibangun dari hal besar, tapi dari detail kecil yang konsisten. Dan sering kali, justru dari hal kecil itulah anak belajar apakah ia benar-benar didengar… atau hanya diminta untuk diam.