New

Niswa Djupri
(Niswatul Ma'rifah, S.Kom., CHt)
Bagi orang tua, janji kepada anak sering terasa sederhana. “Nanti mama belikan,” “Besok kita pergi ya,” atau “Ayah pulang cepat.” Kalimat-kalimat itu mungkin terucap begitu saja, tanpa dipikir panjang. Tapi bagi anak, itu bukan sekadar kata-kata. Itu adalah sesuatu yang mereka pegang dengan penuh harap.
Anak tidak memahami kesibukan orang tua seperti orang dewasa memahaminya. Mereka tidak tahu tentang pekerjaan yang menumpuk atau kelelahan yang tak terlihat. Yang mereka tahu hanya satu: orang tuanya berjanji. Dan bagi mereka, janji adalah sesuatu yang pasti terjadi.
Ketika janji itu ditepati, anak belajar tentang kepercayaan. Ia merasa aman, merasa dihargai, dan merasa bahwa kata-kata orang tuanya bisa dipegang. Dari situlah hubungan yang kuat mulai terbentuk hubungan yang dibangun dari hal-hal kecil yang konsisten.
Namun sebaliknya, ketika janji sering tidak ditepati, anak mulai belajar hal yang berbeda. Ia mulai meragukan. Ia mulai menahan harapannya. Bahkan dalam diam, ia bisa merasa kecewa tanpa mampu mengungkapkannya dengan jelas.
Sering kali orang tua berpikir, “Ah, anak kecil juga nanti lupa.” Padahal tidak selalu begitu. Anak mungkin lupa detailnya, tapi perasaan kecewa itu bisa tertinggal. Dan jika terjadi berulang, ia bisa membentuk cara pandang anak terhadap kepercayaan.
Menepati janji kepada anak bukan tentang hal besar atau mewah. Bukan soal hadiah mahal atau jalan-jalan jauh. Justru sering kali, yang paling diingat adalah janji sederhana yang benar-benar ditepati.
Jika memang tidak yakin bisa menepati, lebih baik tidak mudah berjanji. Atau belajar untuk mengatakan dengan jujur, “Mama belum tahu bisa atau tidak.” Kejujuran seperti ini justru lebih membangun kepercayaan dibanding janji yang indah tapi tidak terwujud.
Dan ketika terpaksa tidak bisa menepati janji, penting untuk meminta maaf. Bukan sekadar menjelaskan, tapi benar-benar mengakui bahwa kita telah mengecewakan. Dari situ, anak juga belajar bahwa orang tua pun bisa salah, dan itu tidak apa-apa selama mau memperbaiki.
Pada akhirnya, menepati janji adalah tentang menjaga hati anak. Tentang bagaimana kita ingin dikenang oleh mereka. Karena suatu hari nanti, yang akan mereka ingat bukan hanya apa yang kita berikan, tapi apakah kita pernah benar-benar menepati apa yang kita ucapkan.