New

Niswa Djupri
Menghafal Al-Qur’an sering kali dipandang sebagai pencapaian yang bisa diukur dengan angka. Berapa juz yang sudah dihafal, seberapa cepat selesai, dan di posisi mana dibandingkan teman-temannya. Padahal, di balik setiap ayat yang diingat, ada proses panjang yang tidak selalu terlihat proses yang melibatkan hati, kesabaran, dan ketulusan.
Banyak ayah dan ibu yang memulai perjalanan ini dengan niat yang sangat baik: ingin anaknya dekat dengan Al-Qur’an. Namun dalam perjalanannya, niat itu sering bercampur dengan kecemasan. Terutama ketika target-target dari sekolah atau lembaga mulai terasa berat dan harus dikejar dalam waktu tertentu.
Kecemasan itu semakin terasa ketika capaian hafalan semua siswa dibagikan di grup orang tua. Tanpa disadari, yang awalnya hanya laporan berubah menjadi perbandingan. Hati orang tua mulai goyah, ada yang merasa bangga, tapi tak sedikit yang merasa tertinggal dan diam-diam menyalahkan diri sendiri.
Ayah pun ikut memikul beban itu. Sepulang kerja, ia berusaha meluangkan waktu untuk menyimak hafalan anak, meski tubuhnya lelah. Ibu juga tak kalah berjuang menemani, mengulang, menguatkan, bahkan menahan emosi ketika anak mulai lelah dan kehilangan fokus. Keduanya sama-sama berikhtiar, dengan cara terbaik yang mereka bisa.
Namun ketika tekanan lebih besar daripada ketenangan, hafalan bisa berubah menjadi beban. Anak mulai merasa takut salah, bukan lagi menikmati proses. Ayat demi ayat yang seharusnya menenangkan, justru terasa menegangkan. Dan di titik itu, makna menghafal perlahan mulai bergeser.
Padahal setiap anak memiliki ritme yang berbeda. Ada yang cepat menghafal, ada yang butuh waktu lebih lama. Ada yang kuat di ingatan, ada yang perlu pengulangan berkali-kali. Semua itu bukan kekurangan, tapi bagian dari cara Allah menciptakan setiap hamba-Nya dengan keunikan masing-masing.
Begitu juga dengan setiap keluarga. Tidak semua ayah punya waktu luang yang sama, tidak semua ibu memiliki energi yang selalu utuh setiap hari. Tapi selama ada usaha, doa, dan kesungguhan, itu sudah menjadi bagian dari ibadah yang sangat berharga di sisi Allah.
Mungkin sudah saatnya kita mengembalikan makna menghafal Al-Qur’an pada tempatnya. Bukan sebagai ajang lomba, bukan untuk dibandingkan, tapi sebagai perjalanan mendekat kepada Allah. Perjalanan yang ditempuh bersama oleh anak, ayah, dan ibu dalam suasana yang penuh cinta dan ketenangan.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang dihafal yang akan menetap, tapi bagaimana hafalan itu hidup di dalam hati. Dan ketika prosesnya dijalani dengan cinta, tanpa tekanan, maka bukan hanya ayat yang terjaga,tapi juga hubungan antara orang tua, anak, dan Allah yang semakin kuat.