Sebelum Memarahi Anak, Coba Tanyakan 3 Hal Ini kepada Diri Sendiri

Niswa Djupri, Sebelum Memarahi Anak, Coba Tanyakan 3 Hal Ini kepada Diri Sendiri






Niswa Djupri
(Niswatul Ma'rifah, S.Kom., CHt)




Ada hari-hari ketika kesabaran seorang ibu terasa begitu tipis. Anak belum juga mandi, mainan berantakan di mana-mana, sudah dipanggil berkali-kali tetapi tidak juga mendengarkan. Belum lagi pekerjaan rumah yang belum selesai, tubuh yang lelah, dan banyak hal lain yang menumpuk di kepala. Lalu tiba-tiba anak melakukan sesuatu yang membuat emosi kita meledak. Rasanya ingin langsung memarahi. Ingin suara kita didengar. Ingin anak segera berubah.

Namun, pernahkah kita berhenti sebentar sebelum marah dan bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya apa yang sedang terjadi? Bukan hanya tentang apa yang dilakukan anak, tetapi juga tentang apa yang sedang terjadi di dalam diri kita. Karena terkadang, kemarahan kepada anak bukan sepenuhnya berasal dari perilaku anak. Bisa jadi ada kelelahan, kekecewaan, tekanan, atau emosi lain yang sudah terlalu lama kita simpan.

Marah kepada anak bukan berarti kita adalah ibu yang buruk. Orang tua juga manusia. Kita memiliki batas kesabaran, memiliki rasa lelah, dan bisa kehilangan kendali. Yang perlu kita pelajari bukan bagaimana menjadi orang tua yang tidak pernah marah, tetapi bagaimana mengenali kemarahan sebelum kemarahan itu melukai hati anak.

Sebelum suara meninggi, sebelum tangan menunjuk, sebelum keluar kalimat yang mungkin akan kita sesali setelahnya, cobalah berhenti sejenak. Tarik napas. Jika memungkinkan, beri diri sendiri waktu beberapa detik. Kemudian tanyakan tiga hal sederhana ini kepada diri sendiri.

**Pertama: Apakah saya sedang marah kepada perilaku anak, atau sebenarnya sedang lelah?**

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya bisa mengubah cara kita merespons anak. Bayangkan anak menumpahkan air ketika kita baru saja selesai membersihkan rumah. Dalam kondisi tubuh segar dan pikiran tenang, mungkin kita hanya berkata, "Tidak apa-apa, yuk kita lap bersama." Namun ketika hal yang sama terjadi setelah seharian mengurus rumah, bekerja, mendampingi anak, dan hampir tidak punya waktu untuk beristirahat, respons kita mungkin jauh lebih keras.

Artinya, terkadang masalahnya bukan hanya air yang tumpah. Ada kelelahan yang sudah menumpuk sebelumnya. Anak hanya menjadi pemicu terakhir dari emosi yang sebenarnya sudah penuh. Inilah mengapa orang tua perlu belajar mengenali kondisi dirinya sendiri. Ketika kita lelah, kemampuan mengendalikan emosi juga bisa menurun.

**Kedua: Apakah perilaku anak memang perlu ditegur sekarang, atau saya hanya ingin anak mengikuti keinginan saya?**

Tidak semua hal yang dilakukan anak harus langsung dikoreksi. Anak yang bermain terlalu lama mungkin memang perlu diingatkan ketika waktunya berhenti. Anak yang berbicara dengan nada kurang sopan tentu perlu diajarkan cara berkomunikasi yang baik. Namun, ada pula hal-hal kecil yang sebenarnya tidak berbahaya, tetapi membuat kita kesal hanya karena tidak sesuai dengan ekspektasi kita.

Anak menumpahkan makanan. Anak memakai baju yang tidak serasi. Anak ingin memilih sendiri sepatu yang akan dipakai. Anak bertanya berkali-kali ketika kita sedang sibuk. Anak membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan sesuatu. Apakah semua itu merupakan masalah besar? Atau sebenarnya kita sedang berharap anak selalu bertindak sesuai dengan standar orang dewasa?

Anak masih sedang belajar. Mereka belum memiliki kemampuan mengatur diri seperti orang dewasa. Mereka sedang belajar tentang aturan, batasan, tanggung jawab, dan konsekuensi. Karena itu, tugas orang tua bukan membuat anak selalu bertindak sempurna, tetapi mendampingi proses belajarnya.

**Ketiga: Kalau saya berada di posisi anak, apa yang sebenarnya saya butuhkan dari orang tua?**

Ini mungkin pertanyaan yang paling sulit sekaligus paling menyentuh. Ketika anak melakukan kesalahan, kita biasanya langsung melihat apa yang salah dari dirinya. Cobalah sesekali melihat dari sudut pandang anak. Apa yang ia rasakan? Apakah ia sedang bingung? Takut? Kecewa? Ingin diperhatikan? Atau sebenarnya ia belum tahu bahwa perilakunya tidak tepat?

Misalnya anak menangis karena tidak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Kita mungkin langsung berkata, "Jangan cengeng!" Padahal, mungkin yang sedang ia rasakan adalah kecewa. Ia belum tahu bagaimana cara mengelola rasa kecewa tersebut. Ketika kita membantunya mengenali emosi, kita sebenarnya sedang mengajarkan keterampilan hidup yang akan ia gunakan hingga dewasa.

Memahami perasaan anak bukan berarti membenarkan semua perilakunya. Anak tetap perlu memiliki batasan. Anak tetap perlu belajar disiplin. Anak tetap perlu mengetahui bahwa ada perilaku yang tidak boleh dilakukan. Tetapi batasan bisa diberikan tanpa merendahkan, tanpa mempermalukan, dan tanpa membuat anak merasa bahwa dirinya tidak berharga.

Ada perbedaan besar antara mengatakan, "Kamu memang susah banget dibilangin!" dengan mengatakan, "Mama tidak suka dengan perilaku kamu tadi. Yuk, kita perbaiki." Kalimat pertama menyerang identitas anak. Kalimat kedua mengoreksi perilakunya. Anak perlu belajar bahwa melakukan kesalahan tidak membuat dirinya menjadi anak yang buruk.

Kadang-kadang kita lupa bahwa anak belajar dari cara kita menghadapi kesalahan. Jika setiap kesalahan selalu disambut dengan bentakan, anak mungkin belajar bahwa marah adalah cara menyelesaikan masalah. Tetapi jika kita menunjukkan bahwa masalah dapat dibicarakan, emosi dapat ditenangkan, dan kesalahan dapat diperbaiki, anak mendapatkan contoh nyata tentang bagaimana mengelola dirinya.

Bukan berarti setelah membaca artikel ini kita tidak boleh marah lagi. Tentu saja tidak sesederhana itu. Akan ada hari ketika kita tetap kehilangan kesabaran. Akan ada momen ketika suara kita meninggi. Bahkan mungkin ada saat ketika setelah anak tidur, kita duduk sendirian dan menyesal karena tadi terlalu keras.

Jika itu terjadi, jangan berhenti pada rasa bersalah. Datanglah kepada anak. Peluk jika ia berkenan. Katakan, "Tadi Mama marah terlalu keras. Mama minta maaf. Perilaku kamu tetap perlu diperbaiki, tetapi cara Mama menyampaikannya tidak tepat." Dari satu kalimat sederhana itu, anak belajar tentang tanggung jawab, keberanian meminta maaf, dan pentingnya memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik.

Menjadi orang tua bukan perjalanan untuk menjadi manusia yang sempurna. Kita juga sedang belajar. Anak belajar mengelola emosinya, sementara kita belajar mengelola emosi kita. Anak belajar meminta maaf, kita pun belajar meminta maaf. Anak belajar bertumbuh, dan orang tua pun seharusnya tidak berhenti bertumbuh.

Maka, lain kali ketika anak membuat kita ingin langsung memarahinya, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan tiga hal ini: **Apakah saya sedang marah atau sedang lelah? Apakah perilaku anak memang perlu ditegur sekarang? Dan jika saya berada di posisi anak, apa yang sebenarnya saya butuhkan dari orang tua?**

Mungkin kita tidak selalu mendapatkan jawaban yang sempurna. Tetapi jeda beberapa detik itu bisa menjadi pembatas antara reaksi dan respons. Antara bentakan dan percakapan. Antara luka yang mungkin menetap dengan pelajaran yang justru akan dikenang anak sebagai bentuk kasih sayang.

Karena pada akhirnya, anak tidak membutuhkan ibu yang tidak pernah marah. Anak membutuhkan ibu yang mau belajar memahami sebelum menghakimi, mau memperbaiki diri setelah melakukan kesalahan, dan tetap menjadi tempat pulang meskipun hari itu penuh kekacauan.

Semoga Allah memberi kita kesabaran yang luas dalam mendampingi anak-anak. Semoga ketika emosi datang, kita diberi kemampuan untuk berhenti sejenak, memilih kata yang lebih lembut, dan mengingat bahwa di hadapan kita bukan sekadar "anak yang sedang berbuat salah", tetapi seorang manusia kecil yang sedang belajar menjalani hidup. Aamiin ya Rabbal 'alamin.